Tuesday, March 18, 2025

Menyelami Jejak Balak: Thriller Investigasi dengan Isu Lingkungan yang Membekas

Jejak Balak || @ayuwelirang || @bukugpu ||  2023 || 384 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Buku yang bagus itu bukan hanya sekadar menghibur, tetapi juga memberikan sesuatu yang bisa kita renungkan. Jejak Balak karya Ayu Welirang adalah salah satu dari sedikit novel yang berhasil melakukan keduanya. Novel ini hadir dengan alur yang tidak berhenti membuat jantung berdegup kencang, kadang alur penceritaanya terasa lambat, namun kadang membuat pembaca seperti terengah-engah saat membaca. Selain itu, karakter masing-masing tokohnya digambarkan secara kuat dan tema yang diangkat juga relatable bagi pembaca di Indonesia. Penulis berhasil menciptakan pengalaman pembacaan yang tidak hanya menegangkan, tapi juga membuka cakrawala pengetahuan tentang budaya di Sumatera Barat, Urban Legend, juga tentang eksploitasi lingkungan.

Petualangan Jurnalis di Tengah Konspirasi Pembalakan Liar
Novel Jejak Balak ini dibuka dengan seorang jurnalis perempuan muda yang dianggap rebel oleh kantor medianya, Dima Sawitri. Sehingga ia dipindahtugaskan dari Ibukota ke media lokal yang masih satu jaringan di Simpang Empat, Sumatera Barat bernama Kaba Jorong. Dima berpikir tugasnya di tempat yang baru akan membosankan, karena apa yang bisa diliput dari media kecil di daerah pelosok. Tapi ternyata ia salah.  

Semua berubah ketika ia bertemu Pijar Timur Matari, seorang wartawan lokal yang punya koneksi erat dengan masyarakat adat. Dima dan Timur ditugaskan untuk menyelidiki kasus kematian dua pembalak liar yang ditemukan tewas dengan kondisi misterius. Informasi yang mereka terima, kematian kedua korban itu disebabkan oleh Inyiak, roh leluhur penjaga hutan yang diyakini ada berbagai bentuk, ada yang percaya berbentuk harimau, tapi ada pula yang percaya berwujud setengah harimau setengah manusia. Namun, apakah memang inyiak lah yang melakukan ini semua atau ada rahasia lain menunggu untuk terungkap?

Peliputan investigasi pun dimulai, seiring waktu keduanya menyadari sebuah pola yang muncul dari setiap kasus. Timur dan Dima mulai mendapatkan tekanan dari semua pihak, pimpinan redaksi di medianya, kepolisian, perusahaan yang membuka lahan demi membuat perkebunan sawit, hingga stigma masyarakat sekitar yang nampak mendukung apapun atau siapapun yang menyebabkan kematian beberapa orang itu. Masyarakat menganggap ini adalah pembalasan dari alam kepada mereka yang menghancurkan kelestarian alam demi menggemukkan kantong mereka. 


Lebih dari Sekadar Misteri, Ini Soal Lingkungan dan Budaya Lokal

Kekuatan novel ini saya rasa adalah keberanian penulis mengangkat isu lingkungan, korporasi sawit, dan hukum adat. Novel ini menggambarkan dengan jelas bagaimana perusahaan besar seringkali mengorbankan hutan demi keuntungan tanpa mempedulikan dampak bagi masyarakat adat yang sudah tinggal di sana selama ratusan tahun.

Pemilihan latar lokasi Pasaman Barat, Sumatera Barat juga membuat Jejak Balak semakin unik sebagai novel thriller. Pembaca tidak hanya dibuat tenggelam dengan cerita thriller dan investigasi tapi juga disuguhkan budaya dan urban legend yang ada di masyarakat Sumatera Barat. Adat istiadat, hukum adat, dan kepercaan masyarakat dengan roh leluhur sangat kental diceritakan secara apik. Penulis, Ayu Welirang, dengan apik menulis pergesekan antara tradisi dan modernisasi, kapitalisme korporasi yang berhadapan dengan hak masyarakat adat.

Karakter yang Hidup dan Relatable

Tokoh-tokoh dalam novel ini dihadirkan secara hidup, masing-masing digambarkan dengan karakter yang berisi tidak kosong. Baik tokoh utama atau pendukung, semua saling mengisi dalam dialog dan terbangunnya cerita serta sangat relate dengan realita yang ada. Tokoh utama dalam novel ini ada Dima Sawitri dan Pijar Timur Matari. Keduanya digambarkan sebagai sosok karakter yang tidak flawless.

Dima yang datang sebagai wartawan ibukota yang dipindahkan ke daerah, masih memiliki ego yang tingg. Ia menganggap akan menghadapi pekerjaan jurnalistik remeh temeh di pelosok yang jauh dari ibukota. Ternyata asumsi Dima salah, justru di Pasaman Barat lah ia bertemu dengan pekerjaan yang menantang adrenalinnya hingga hampir merenggut nyawanya. 

Dima bertemu dengan Pijar Timur Matari, seorang jurnalis yang idealis untuk hal-hal yang menyangkut isu lingkungan, kepercayaan, adat dan budaya. Timur paham sekali bagaimana kolaborasi korporasi dan pemerintah acapkali mengesampingkan masyarakat adat. Ia juga menjadi jembatan antara dunia modern dan adat budaya yang masih dipegang teguh oleh masyarakat. Karakter Dima dan Timur ini membuat cerita dalam novel ini semakin kaya, nyata dan relatable. 

Selain tokoh utama, tokoh pendukung pun memiliki porsi peran penting dalam penceritaan di Jejak Balak. Tidak ada satupun karakter tokoh yang dibuat hanya untuk sekedar lewat. Petugas kehutanan yang tangkas, pejabat yang korup, polisi yang mudah disetir oleh pengusaha, media yang mudah takluk karena iklan dari korporasi, masyarakat adat yang masih memelihara adat dan memperjuangkan tanah ulayat mereka, jurnalis yang idealis dan ada pula jurnalis yang masih tunduk pada kepentingan korporasi. Semua hadir dan memberikan warna yang lengkap untuk membangun cerita dan latar penceritaan yang kokoh.

Gaya Bahasa dan Alur yang Mengalir Natural

Kekuatan novel Jejak Balak selain dari ide cerita yang menarik sesungguhnya ada di gaya penulisan Ayu Welirang yang begitu nyaman dibaca. Semua detail cerita disuguhkan dengan gaya yang mengalir. Narasi yang ia bangun membuat pembaca merasa seperti sedang menonton film dokumenter investigasi—serius, menegangkan, tapi juga penuh momen refleksi.

Slice slice adegan investigasi terasa hidup dengan gaya bercerita dan detail yang disajikan membawa pembaca masuk ke dalam alur cerita yang sangat menegangkan. Dialog yang tercipta antar tokoh terkesan natural dan terasa sekali komunikasi ala jurnalis dan ketika masyarakat adat berkomunikasi dalam keseharian.

Jangan Tutup Mata pada Perampasan Tanah Adat

Salah satu pesan kuat yang coba disampaikan dari novel Jejak Balak ini saya rasa ada pada upaya menggugah pembaca bahwa alam, lingkungan, dan tanah adat acap kali menjadi korban ketamakan kita manusia. Bukan hanya sekedar cerita misteri kematian pembalak liar.
Dalam banyak kasus nyata, masyarakat adat yang kehilangan tanah mereka seringkali tidak punya pilihan selain melawan atau menyerah. Hutan yang mereka anggap sebagai bagian dari identitas mereka dirusak oleh perusahaan besar, dan hukum seringkali berpihak kepada pemilik modal.

Pesan inilah yang mampu menyentuh emosional pembaca dengan suguhan realis dampak dari eksploitasi alam secara apa adanya.
Sebuah kutipan dalam novel ini menggugah saya.
Di mana ada sumber daya, di situ kapitalisme tumbuh. Dan di mana kapitalisme tumbuh, hukum sering kali bertekuk lutut.
Kutipan ini seakan menampar kita, para pembaca atas realita yang terjadi saat ini.

Thriller Investigasi yang Wajib Dibaca

Kalau kamu pecinta cerita misteri, thriller, investigasi yang penuh ketegangan, karakter tokoh yang kuat, cerita yang sarat akan pesan sosial, maka novel Jejak Balak bisa saya rekomendasikan. Novel ini lebih dari sekadar pembunuh waktu—ia adalah pengingat tentang bagaimana lingkungan kita semakin terancam, dan bagaimana kita sebagai manusia punya tanggung jawab untuk melindunginya. Novel ini layak mendapat apresiasi tinggi dari pembaca.

Jadi, siapkah kamu menyelami jejak-jejak yang ditinggalkan oleh para pembalak dan mengungkap kebenaran di baliknya?


0 comments:

Post a Comment