Too Much Noisy?
Bijaklah Menyaring Informasi di Masa Genting
Bulan pertama di tahun 2020 ini dunia benar benar dibuat tergopoh gopoh atau hanya sekedar dikagetkan dengan beberapa peristiwa. Mulai dari kebakaran hutan hingga banjir di Australia, ricuh penyintas di perbatasan Meksiko dan US, upaya penggulingan Donald Trump, banjir di Indonesia, skandal Garuda dan rentetan skandal pergundikannya, wabah Corona Virus, hingga demam Crash Landing on You.
Yang terakhir ini cukup bikin neng megap megap lah ya... Kalo yang lain ga merasa yg sama yaaa mon maap...
Ok balik serius hehhee... Salah satu yang banyak menyita ruang ruang media yang kita miliki sehingga penuh dengan informasi terkait adalah wabah Corona Virus. Neng gak akan membahas tentang virus ini dan segala macam teori konspirasi di baliknya.
Neng akan fokus pada bagaimana kita sebagai pengguna media sosial atau penerima informasi harus bertindak menyikapi luapan arus informasi yang beredar. Karena banyak informasi yang akhirnya menjadi terlalu bising dan membingungkan. Yang kemudian berdampak pada kecemasan dan ketakutan masyarakat awam.
Apa yang bisa kita lakukan pada masa masa seperti ini?
1. Teliti Sumber Informasi
Di masa masa genting, neng yakin akan baanyaak sekali muncul informasi A-Z tentang perkembangam wabah Corona Virus. Atau yang banyak muncul broadcast adalah obat obat atau cara pengobatan dan pencegahannya. Nah, sebagai penerima informasi kita wajib meneliti sumber informasinya. Valid atau tidak. Hal ini penting karena sumber informasi yang valid akan berdampak pada kredibilitas dan tingkat kebenaran informasi tersebut.
Namun, ketika sumber informasi sudah valid, misal dari media portal berita atau media mainstream seperti tv, koran, dll kita juga tetap wajib melakukan step ke 2.
2. Crosscheck Validitas Informasi
Kadang pernah kan kita menemukan berita di portal online masih diragukan validitas informasinya. Bahkan kadang informasi dari media mainstream pun saling tumpang tindih bergantung narasumber yang mereka dapatkan.
Nah tugas kita kemudian adalah memastikan validitas informasi. Crosscheck dengan media yang berbeda. Narasumber berbeda. Atau jika memungkinkan bertanya pada ahli. Misal di Twitter banyak sekali dokter atau peneliti bahkan mahasiswa yang masih berada di Wuhan China yang berbagi informasi valid. Kita bisa meluangkan waktu menyimak utas info yang mereka sampaikan atau bahkan menanyakan langsung pada mereka.
3. Bagikan Tanpa Opini Pribadi
Jika sumber informasi valid dan informasi juga sudah kita pastikan benar baru deh boleh kita bagikan. Kalau bisa tanpa menambahkan opini pribadi yang memungkinkan penafsiran yang berbeda lagi. Kecuali memang kita expert di bidang tersebut.
Karena sekarang ini, banyak sekali yang membagikan informasi kemudian ditambahi caption yg nyinyir atau menggiring opini yang "menyesatkan" pembaca menerima informasi yang benar. Padahal mungkin mereka yang membagikan informasi belum tentu paham.
4. Jangan Membiaskan Informasi Demi Kepentingan Tertentu
Dengan dalih membagikan informasi kemudian dibumbui informasi yang membuat bias informasi, bolehkah? Secara etikanya sih tidak boleh. Tapi itu hak masing-masing. Namun, coba kita bayangkan mungkin saja di luar sana ada yang membutuhkan informasi yang valid kemudian ketemunya berita yang kita bagikan. Bias pula informasinya dibumbui nyinyiran, ujaran kebencian, dll. Kan kasihan...
Kalau tidak bisa membagikan informasi yang benar dan valid lebih baik hentikan informasi itu di kamu. Jangan kotori beranda informasi orang lain dengan hal hal negatif dari kamu. Berhenti saja di kamu.
Bijak menggunakan media sosial, bijak dalam membagikan informasi.
Keep spread love
Neng Nunung
#sebelassebelasmoment
11:11 moment
Day 29 of 366
ps : series 11:11 moment juga bisa dibaca di Facebook saya. Day 1-28 akan diupdate menyusul di blog ini juga...