Saturday, January 31, 2026

Ekspedisi yang Menampar Negara dengan Fakta yang Selama Ini Dikaburkan


#Reset Indonesia  || Penulis : Farid Gaban & Dandhy Laksono || Koperasi Indonesia Baru & Indonesia Tera / Patjar Merah || 448 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Buku #Reset Indonesia karya Farid Gaban dan Dandhy Laksono adalah tuduhan terbuka terhadap cara negara ini dijalankan. Ini bukan buku refleksi lembut, bukan pula bacaan optimistis ala pidato kenegaraan. Ini adalah berkas dakwaan atas proyek bernama “pembangunan nasional” yang selama puluhan tahun dijual sebagai kemajuan, padahal praktiknya adalah perampasan yang dilegalkan.

“Reset” dalam buku ini bukan ajakan kosmetik. Ia adalah tuntutan politis berupa, hentikan sistem, bongkar fondasinya, dan susun ulang dari nol.

Pembangunan, Nama Halus untuk Penjarahan Terstruktur

Buku ini dengan brutal membuka fakta yang sering disamarkan, pembangunan di Indonesia bukan gagal, ia justru berhasil, tapi hanya untuk oligarki. Tambang, perkebunan raksasa, reklamasi, IKN, infrastruktur, semuanya dipresentasikan sebagai kepentingan nasional, padahal tanah dirampas atas nama izin, hutan dihancurkan atas nama investasi, dan warga digusur atas nama pertumbuhan.

Negara tidak netral. Negara berpihak secara aktif pada pemodal. Hukum dipakai sebagai alat legalisasi perampasan, bukan pelindung warga. Dalam kerangka ini, konflik agraria bukan kecelakaan kebijakan, tapi konsekuensi logis dari desain kekuasaan.

Demokrasi yang Disunat, Kritik yang Dikriminalisasi

Farid dan Dandhy dengan terang-terangan menyebut demokrasi Indonesia sebagai demokrasi prosedural tanpa keberanian. Pemilu jalan, baliho ramai, survei bertebarantap, namun keputusan penting justru diambil di ruang tertutup, jauh dari rakyat. Siapa yang berani menolak proyek strategis nasional? Aktivis akan dicap penghambat, akademisi dikerdilkan, dan jurnalis dikriminalisasi

Demokrasi direduksi menjadi ritual lima tahunan, sementara hak rakyat untuk menentukan masa depan wilayah hidupnya dipreteli. Stabilitas dijadikan mantra untuk membungkam perlawanan.

Ekologi Dikorbankan, Krisis Dipungut Keuntungannya

Dalam buku ini, kehancuran lingkungan tidak diperlakukan sebagai “dampak samping”. Ia adalah inti masalah. Model ekonomi ekstraktif yang dipertahankan negara memastikan satu hal, alam akan selalu kalah. Ironisnya, ketika krisis iklim datang, Negara bicara transisi energi dan rakyat menanggung banjir, longsor, serta kekeringan. Krisis dipakai sebagai peluang bisnis baru, bukan momentum koreksi. Buku ini menyebutnya dengan tepat: kapitalisme bencana.

Nasionalisme Palsu dan Retorika Kepentingan Bangsa

Salah satu kritik paling tajam dalam #Reset Indonesia adalah penggunaan nasionalisme sebagai tameng politik. Atas nama “kepentingan bangsa”, proyek destruktif dilegalkan, penolakan warga dianggap tidak nasionalis, kritik disamakan dengan ancaman.

Padahal yang dilindungi bukan bangsa, melainkan kepentingan ekonomi segelintir elite yang bersembunyi di balik simbol negara.

#Reset Indonesia tidak berpura-pura objektif. Ia berpihak. Dan di tengah negara yang makin alergi pada kritik, keberpihakan itu adalah sikap politis yang penting. Buku ini tidak meminta izin pada kekuasaan. Ia mengganggu, menyentil, dan memprovokasi pembacanya untuk berhenti percaya pada narasi resmi. Ini bukan buku untuk mereka yang ingin merasa aman. Ini buku untuk mereka yang siap marah, gelisah, dan bertanya ulang: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari Indonesia hari ini?

Farid Gaban dan Dandhy Laksono tidak menjanjikan masa depan cerah. Yang mereka tawarkan adalah pilihan jujur, Reset sistem yang menindas atau bertahan dalam normal lama yang merusak. #Reset Indonesia bukan lagi sekadar buku. Ia adalah ajakan politik—untuk menolak patuh, menolak diam, dan menolak percaya bahwa kehancuran ini adalah takdir.


Jadi Baiknya Suara Dibungkam atau Tidak?


Bungkam Suara || Penulis : JS Khairen || @grasindo || Cetakan Kedelapan Oktober 2025 || 366 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Apa jadinya jika kita, sebagai warga negara, hanya memiliki satu hari untuk bebas berbicara? Di Hari Bebas Bicara itu semua rakyat bebas berbicara secara terang-terangan, tanpa harus khawatir ditangkap. 

Kalau itu terjadi di negeri ini pasti satu hari itu akan chaos, sama yang terjadi di cerita novel Bungkam Suara karya JS Khairen ini. JS Khairen mengajak pembaca masuk ke sebuah dunia distopia, Negara Kesatuan Adat Lawaknesia atau disebut juga NAKAL, di sini berbicara, berteriak, bahkan sekadar bersuara bisa berujung hukuman. Dalam dunia ini, diam bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Suara dianggap berbahaya, karena suara berarti ekspresi, protes, dan kemungkinan perlawanan. Hanya ada satu hari mereka bisa bebas bicara.

Cerita yang Sederhana, Tapi Mengganggu

Plot Bungkam Suara sebenarnya tidak rumit. Namun justru di situlah kekuatannya. JS Khairen tidak sibuk membangun dunia dengan istilah teknis berlebihan, melainkan fokus pada ketakutan sehari-hari, rasa cemas saat ingin bicara, dilema antara diam demi selamat atau bersuara demi kebenaran.

Tokoh-tokohnya terasa manusiawi, tak sepenuhnya heroik, sering ragu, dan penuh konflik batin. Pembaca diajak bertanya:

Kalau aku hidup di dunia ini, aku akan berani bersuara… atau memilih aman?

Alegori Kekuasaan dan Pembungkaman

Sulit membaca buku ini tanpa merasa “tersindir”. Bungkam Suara jelas bukan sekadar fiksi. Ia bekerja sebagai alegori tentang kekuasaan yang takut pada kritik. Di sini, pembungkaman tidak selalu lewat senjata, tapi lewat aturan, normalisasi ketakutan, dan pembiasaan diam.

JS Khairen seakan ingin bilang:

pembungkaman paling efektif bukan ketika suara dilarang, tapi ketika orang-orang takut menggunakan suaranya sendiri.

Ini terasa relevan dengan konteks sosial mana pun, termasuk Indonesia, di mana kritik sering dianggap gangguan, bukan bagian dari demokrasi.

Gaya Bahasa: Ringan, Cepat, dan Mengalir

Salah satu ciri khas JS Khairen tetap terasa: bahasa yang lugas, dialog yang hidup, dan ritme cerita yang cepat. Buku ini tidak terasa “berat”, meskipun temanya serius. Justru itu yang bikin efeknya nendang—pesan politik dan sosial diselipkan tanpa menggurui.

Namun, bagi pembaca yang mengharapkan eksplorasi dunia distopia yang sangat detail, buku ini mungkin terasa agak singkat dan padat. Ia lebih seperti tamparan cepat daripada kuliah panjang.

Bungkam Suara adalah novel yang relevan, resah, dan provokatif. Ia mengajak pembaca merenungkan makna kebebasan berekspresi, keberanian bersuara, dan harga yang harus dibayar ketika kebenaran dianggap ancaman.

Ini bukan buku yang memberi jawaban pasti.

Tapi ia menanam satu pertanyaan yang terus menggema setelah halaman terakhir ditutup:

Kalau suatu hari suara kita dibungkam, apakah kita masih ingat cara bersuara?



Mari Masuk ke Dubia Na Willa


Na Willa || Reda Gaudiamo || @postpress || Cetakan Kesebelas Agustus 2025 || 115 halaman 

Rate : 5/5 ⭐


Pernah tidak kita yang usianya sudah menginjak leher orang ini rindu dengan kehidupan saat masa kecil? Masa-masa di mana yang kita tahu hanya bermain dan bersenang-senang. Masa-masa di mana masalah terberat kita hanya uang jajan yang dipotong orang tua karena kebanyakan main. 

Nah, kalo kamu sama rindunya masa-masa itu sama seperti saya, sepertinya buku ini cocok kita baca. Na Willa karya ibu Reda Gaudiamo. Tau kan, Ibu Reda yang tutur katanya lembut, yang setiap beliau bicara seperti kita dipeluk dalam kehangatan. Nah Na Willa ini juga menurut saya menawarkan pengalaman yang sama. 

Membaca Na Willa seperti kita diajak untuk menyelami dunia Willa, bocah kecil yang 4-5 tahun atau berusia TK, yang tinggal di sebuah kawasan di Surabaya. Kita diajak berkenalan dengan Mak dan Pak, orang tua Willa, berkenalan dengan sahabat-sahabat Willa, Ida, Dul, Bud, Warno, Gus Salim, dan lain-lain. Mengikuti kisah orang-orang di sekitar Willa yang dilihat dari POV Willa. Mengikuti kisah Willa yang sudah ingin sekali sekolah dan pada akhirnya menemukan TK yang ia sukai.  

Sungguh menyenangkan. Membaca Na Willa, ingatan kita menjadi segar sekali dengan kisah-kisah bocah kecil itu, bersamaan juga kita merasakan kehangatan dari interaksi Willa dengan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kedekatan Willa dengan Mak dan Pak, kebiasaannya dibacakan buku atau didongengin Mak sebelum tidur, atau juga kerinduannya pada sosok Pak yang hanya bisa ia temui sesekali karena bekerja di luar kota. 

Bu Reda menuliskan Na Willa dengan bahasa yang menurut saya "sangat anak-anak" atau paling tidak bisa dibaca dan dipahami oleh anak-anak. Setiap kisahnya sarat dengan pesan yang disampaikan dengan ringan. 

Kalian harus baca buku Na Willa ini sebelum nanti filmnya akan tayang di libur Lebaran. Rasakan kehangatan dunia Willa bahkan dari membaca kisahnya di buku ini. 

Friday, January 23, 2026

Memoar Aurelie, Suara bagi Korban Child Grooming dan Pelecehan Lain


Broken Strings || Aurelie Moeremans || 220 halaman || Self Publish 

Rate : 5/5 ⭐

Kepalaku berdenyut, dadaku menegang, seperti tubuhku tahu sesuatu yang pikiranku belum mengerti. Aku bilang pada diri sendiri, ini cuma karena hari yang panjang, lampu, kebisingan, tapi jauh di dalam, ada sesuatu yang membuatku gelisah. 

Auerelie - Broken Strings


Disclaimer : Tentu ini bukan review atau ulasan buku yang proper, anggap saja ini reaksi saya setelah membaca Broken Strings. 


Sejak pertama kali buku yang ditulis Aurelie ini diluncurkan melalui Instagram dan ia membuatnya bebas didownload dan dibaca oleh siapapun, jujur saja saya menahan diri untuk ikut membaca. Terlebih ketika kemudian viral dan banyak teaser dari mereka yang sudah membacanya di sosial media, membuat saya makin ragu untuk membaca buku ini. Bukan karena apa-apa, tapi karena takut. Aku takut apa yang saya anggap sudah baik-baik saja, kemudian terpicu untuk muncul ke permukaan. 

Namun, rasanya saya menjadi penasaran dan akhirnya memberanikan diri untuk membaca. Hingga bab kedua masih aman, Aurelie menuliskan kehidupannya dengan tenang dan perlahan. Pembaca dituntun untuk masuk ke dunianya dengan cara yang tenang tapi tetap ada rasa tak nyaman. Dan masuk bab ketiga, saat ia mulai menceritakan tentang Bobby, saya benar-benar merasa mual, marah, jijik, dan mengeluarkan banyak sumpah serapah selama membaca. 

Meskipun nama-nama disamarkan dalam memoar yang ditulis Aurelie ini, bagi saya nama-nama asli itu sudah tidak penting lagi. Yang penting adalah peristiwa dan peran mereka sesuai dari apa yang diceritakan Aurelie. 

Hanya satu kata, mengerikan. Membayangkan seorang remaja berusia 15 tahun dimanipulasi oleh laki-laki yang usianya hampir dua kali usianya. Bagaimana orang-orang di sekitar remaja perempuan bernama Aurelie itu gagal mencegah perbuatan jahat itu dan gagal melindunginya. Bahkan ada satu dua orang yang justru melanggengkan usaha si Bobby melakukan abuse pada Aurelie. Beruntung orang tua Aurelie tidak meninggalkannya dan menyerah padanya hingga titik terakhir. Meskipun, menurut keyakinan saya, jika perlindungan itu hadir sejak awal, hal buruk itu tidak akan berlanjut jauh. 

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana besarnya perjuangan Aurelie untuk lepas dan keluar dari jeratan manipulasi dan abuse. Karena saya tahu tidak mudah memutuskan rantai manipulasi itu pada diri korban, karena seringkali korban dikunci secara emosional dan psikis dengan ketakutan dan ancaman yang terus dijejalkan ke pikirannya setiap saat. Sehingga menganggap korban adalah pihak yang bersalah dengan semua hal buruk dalam hidupnya. 

Memoar Broken Strings ini disajikan dengan bahasa yang cukup mudah dipahami, bahkan dalam versi bahasa Inggrisnya pun juga. Seperti yang disampaikan Aurelie, ia menuliskan pengalaman hidupnya ini bukan semata untuk membuka "aib" seseorang atau masa lalunya. Ia berusaha untuk sembuh dari traumanya dan menggunakan media menulis sebagai salah satu caranya untuk sembuh. Ia juga berharap kisahnya bisa membantu orang lain. Dan Aurelie berhasil. Kisahnya, traumanya yang diceritakan dalam buku ini menjadi seperti terang dari kelamnya kasus-kasus serupa di negeri ini. 

Keberanian Aurelie kali ini menceritakan pengalamannya mengalami child grooming dan kekerasan psikis saat ia berusia muda, memberikan nyala api pada kasus-kasus serupa yang tertimbun dalam gelap.

Saya, Kita, Mereka, yang selama ini ternyata menjadi korban dan memilih diam dan sembunyi karena banyak alasan, akhirnya menemukan jalan terang dan keberanian untuk ikut bersuara.


Sunday, January 18, 2026

Hidup Bersama Raksasa; Bentuk Dominasi Korporasi dan Pemerintah pada Masyarakat Sekitar




Hidup Bersama Raksasa, manusia dan Pendudukan Perkebunan Sawit  || Penulis : Tania Murray Li & Pujo Semedi || Penerjemah : Pujo Semedi || @marjinkiri ||Cetakan Kedua, Februari 2025 || 362 halaman 

Rate : 5/5 ⭐


"Apa itu perkebunan?" 


Bagi Pujo, perkebunan adalah raksasa, raksasa yang tidak efisien dan malas, namun tetap saja raksasa. Ia makan banyak ruang. Ia serakah dan ceroboh, bikin rusak dan hancur segala di sekitarnya. 

Sementara bagi Tania, perkebunan adalah konstruk kolonial, yang dibangun berdasar asumsi petani kecil tidak mampu berproduksi dengan efisien. Sehingga mereka menciptakan mesin yang menggalang tanah, tenaga kerja, dan modal dalam jumlah besar untuk budidaya tunggal yang dijual ke pasar dunia. 


Tania Murray Li & Pujo Semedi mengerjakan penelitian dan menyusun buku Hidup Bersama Raksasa karena melihat adanya situasi genting yang di alami warga di tiga negara, Malaysia, Indonesia, dan Singapura. Warga di tiga negara tersebut disebut adalah yang paling terdampak dalam upaya pembukaan lahan-lahan untuk perkebunan sawit. Kebakaran hutan yang biasanya terhubung dengan pembukaan lahan perkebunan akan memproduksi kabut asap dan udara kotor pekat selama beberapa waktu. 


Namun, buku ini bukan hanya tentang sawit. Buku ini erisi tentang bagaimana kekuasaan bekerja secara senyap namun brutal, dan bagaimana negara, korporasi, dan logika kapitalisme agraria membuat perampasan tanah terlihat normal, legal, dan dibutuhkan. Sawit di buku ini tidak hanya sekadar tanaman atau pohon seperti yang disebut oleh presiden kesayangan kita. Sawit adalah rezim yang mengatur siapa boleh hidup layak, siapa yang terpinggirkan, dan siapa yang dipaksa menerima dan bersyukur hanya karena masih diberikan pekerjaan di tanahnya sendiri yang sudah bukan miliknya lagi. 


Tania Murray Li dan Pujo Semedi secara terang-terangan menunjukkan satu hal penting : pendudukan perkebunan sawit itu hampir tidak pernah terjadi melalui represi dengan senjata, tapi lewat kertas, peta, izin, dan bahasa pembangunan dan alasan kestabilan atau kemandirian ekonomi. Kekerasannya administratif, tapi dampaknya bisa langsung terasa, tanah hilang, pilihan hidup lenyap, dan masyarakat dikurung dalam satu sistem produksi.


Buku ini merekam dua perkebunan sawit di Kalimantan barat. Tania dan Pujo mengkaji struktur dan tata kelola dua perkebunan sawit tersebut. Hidup Bersama Raksasa ini membongkar ilusi tentang pilihan bebas yang dikatakan diambil oleh masyarakat sekitar. Masyarakat lokal sering kali disebut "setuju" atau bermitra. Namun, yang perlu dikaji lagi adalah mereka setuju dalam kondisi seperti apa? Saat tanah sudah dipagari hukum negara, saat hutan sudah dilabeli sebagai "tanah negara", dan saat opsi hidup di luar sawit pelan-pelan dimatikan. Orang-orang sekitar perkebunan dipasung masa depannya dan  dipaksa bergantung pada upah, kredit, dan pasar yang tidak mereka kuasai. Dan ini, bukan pembangunan yang diamanatkan UUD 1945 atau Pancasila, karena tidak ada keadilan yang rakyat sekitar dapatkan.  


Lantas bagaimana posisi negara yang nampak pura-pura netral? Negara hadir lewat izin, regulasi, dan aparat tapi keberpihakannya jelas yaitu melicinkan jalan ekspansi bukan melindungi warga. Konflik agraria kemudian direduksi jadi "kesalahpahaman", bukan hasil desain kebijakan pemerintah. 


Satu fakta yang menyakitkan diungkap dalam Hidup Bersama Raksasa, bagaimana raksasa ini memecah masyarakat dari dalam. Sawit menciptakan kelas baru dalam masyarakat, mandor, plasma, buruh harian. Keguyuban dan solidaritas yang ada di desa rontok digantikan oleh hierarki dan kecemburuan. Hal ini merupakan bagian dari strategi klasik, pecah, kelola, dan kuasai. 


Sepanjang membaca buku ini, saya dibuat marah tapi amarah ini entah harus ditinjukan ke arah mana. Jika kamu suka membaca tentang isu lingkungan, masalah agraria, atau dunia perkebunan sawit, buku ini layak untuk dibaca dan dipelajari. 


Saya belajar satu hal dari buku ini, jangan lelah mencintai negara ini, meskipun dikelola secara brutal dan serakah oleh orang-orang yang tak tahu diri. 


Selamat membaca