#Reset Indonesia || Penulis : Farid Gaban & Dandhy Laksono || Koperasi Indonesia Baru & Indonesia Tera / Patjar Merah || 448 halaman
Rate : 5/5 ⭐
Buku #Reset Indonesia karya Farid Gaban dan Dandhy Laksono adalah tuduhan terbuka terhadap cara negara ini dijalankan. Ini bukan buku refleksi lembut, bukan pula bacaan optimistis ala pidato kenegaraan. Ini adalah berkas dakwaan atas proyek bernama “pembangunan nasional” yang selama puluhan tahun dijual sebagai kemajuan, padahal praktiknya adalah perampasan yang dilegalkan.
“Reset” dalam buku ini bukan ajakan kosmetik. Ia adalah tuntutan politis berupa, hentikan sistem, bongkar fondasinya, dan susun ulang dari nol.
Pembangunan, Nama Halus untuk Penjarahan Terstruktur
Negara tidak netral. Negara berpihak secara aktif pada pemodal. Hukum dipakai sebagai alat legalisasi perampasan, bukan pelindung warga. Dalam kerangka ini, konflik agraria bukan kecelakaan kebijakan, tapi konsekuensi logis dari desain kekuasaan.
Demokrasi yang Disunat, Kritik yang Dikriminalisasi
Farid dan Dandhy dengan terang-terangan menyebut demokrasi Indonesia sebagai demokrasi prosedural tanpa keberanian. Pemilu jalan, baliho ramai, survei bertebarantap, namun keputusan penting justru diambil di ruang tertutup, jauh dari rakyat. Siapa yang berani menolak proyek strategis nasional? Aktivis akan dicap penghambat, akademisi dikerdilkan, dan jurnalis dikriminalisasi
Demokrasi direduksi menjadi ritual lima tahunan, sementara hak rakyat untuk menentukan masa depan wilayah hidupnya dipreteli. Stabilitas dijadikan mantra untuk membungkam perlawanan.
Ekologi Dikorbankan, Krisis Dipungut Keuntungannya
Dalam buku ini, kehancuran lingkungan tidak diperlakukan sebagai “dampak samping”. Ia adalah inti masalah. Model ekonomi ekstraktif yang dipertahankan negara memastikan satu hal, alam akan selalu kalah. Ironisnya, ketika krisis iklim datang, Negara bicara transisi energi dan rakyat menanggung banjir, longsor, serta kekeringan. Krisis dipakai sebagai peluang bisnis baru, bukan momentum koreksi. Buku ini menyebutnya dengan tepat: kapitalisme bencana.
Nasionalisme Palsu dan Retorika Kepentingan Bangsa
Salah satu kritik paling tajam dalam #Reset Indonesia adalah penggunaan nasionalisme sebagai tameng politik. Atas nama “kepentingan bangsa”, proyek destruktif dilegalkan, penolakan warga dianggap tidak nasionalis, kritik disamakan dengan ancaman.
Padahal yang dilindungi bukan bangsa, melainkan kepentingan ekonomi segelintir elite yang bersembunyi di balik simbol negara.
#Reset Indonesia tidak berpura-pura objektif. Ia berpihak. Dan di tengah negara yang makin alergi pada kritik, keberpihakan itu adalah sikap politis yang penting. Buku ini tidak meminta izin pada kekuasaan. Ia mengganggu, menyentil, dan memprovokasi pembacanya untuk berhenti percaya pada narasi resmi. Ini bukan buku untuk mereka yang ingin merasa aman. Ini buku untuk mereka yang siap marah, gelisah, dan bertanya ulang: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari Indonesia hari ini?
Farid Gaban dan Dandhy Laksono tidak menjanjikan masa depan cerah. Yang mereka tawarkan adalah pilihan jujur, Reset sistem yang menindas atau bertahan dalam normal lama yang merusak. #Reset Indonesia bukan lagi sekadar buku. Ia adalah ajakan politik—untuk menolak patuh, menolak diam, dan menolak percaya bahwa kehancuran ini adalah takdir.










