Sunday, February 15, 2026

Perempuan di Titik Nol ; Rekam Realita Sosial yang Masih Ditemukan di Masa Kekinian


Perempuan di Titik Nol  || Nawal el-Saadawi || Penerbit Obor ||  Cetakan ke-21, Juni 2025 || 210 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Apa jadinya saat kita membaca novel yang ditulis tahun 70an namun kisahnya seakan masih bisa kita lihat di sekeliling kita di masa kekinian. Inilah yang saya rasakan saat membaca Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi. 

Saya tidak menemukan rasa nyaman saat membaca Buku Perempuan di Titik Nol, tapi justru itu kekuatannya. Lewat tokoh Firdaus, Nawal El Saadawi membongkar wajah patriarki dengan jujur, pahit, dan tanpa basa-basi. Ini bukan kisah perempuan lemah yang menunggu diselamatkan namun kisah perempuan yang sadar bahwa sistemlah yang rusak.

Firdaus tidak lahir sebagai “perempuan rusak”. Ia diproduksi oleh sistem. Sejak kecil, negara absen melindunginya, tapi sangat hadir untuk mengontrolnya. Pendidikan, keluarga, pernikahan, dunia kerja. Semuanya berjalan dalam satu logika yang sama, perempuan harus patuh, melayani, dan diam. Di titik inilah feminisme dalam buku ini terasa sangat kuat. Penindasan terhadap perempuan bukan soal individu jahat, tapi soal struktur sosial yang timpang.

Buku ini penting karena menunjukkan bahwa musuh perempuan bukan hanya individu laki-laki, melainkan struktur patriarki yang dilembagakan. Ayah, paman, suami, mucikari, atasan kantor, polisi, hakim yang semuanya adalah perpanjangan tangan sistem yang sama. Mereka berbeda peran, tapi satu tujuan yaitu menguasai tubuh dan hidup perempuan.

Ketika Firdaus diperkosa, negara diam. Ketika ia dipukul suami, negara menyebutnya urusan rumah tangga. Tapi ketika ia membunuh laki-laki yang mengeksploitasinya, negara tiba-tiba sangat “bermoral” dan hadir penuh wibawa lewat hukum dan tiang gantungan.

Buku ini seharusnya dibaca bukan sebagai novel, tapi sebagai dokumen perlawanan. Firdaus memang berada di titik nol, tapi justru dari titik itulah kebohongan patriarki terlihat paling telanjang.

Dan pesan paling kejam dari El Saadawi jelas, selama negara, hukum, dan moral dibangun di atas ketundukan perempuan, maka kematian seperti Firdaus bukan tragedi melainkan kebijakan.

Lantas bagaimana di negara ini? 

Di Indonesia, negara sangat aktif mengatur tubuh dan moral perempuan, tapi sering absen ketika perempuan mengalami kekerasan. Kita masih melihat korban kekerasan seksual disalahkan karena pakaian atau jam pulang, perempuan korban KDRT diminta “sabar demi anak”, pekerja perempuan dieksploitasi tapi disuruh bersyukur karena “masih punya kerja”.

Seperti Firdaus, perempuan Indonesia sering dianggap bermasalah ketika melawan, bukan ketika disakiti. Negara lebih cepat menghakimi perilaku perempuan daripada melindungi keselamatannya. Perempuan miskin, seperti Firdaus, selalu jadi target termudah. Mudah diatur, mudah disalahkan, dan mudah dikorbankan.

Novel Perempuan di Titik Nol ini masih sangat relate dibaca meskipun ditulis puluhan tahun lalu. Itu artinya apa? Di setiap masa dan zaman, perempuan akan selalu menjadi objek bukan dipandang sebagai subjek yang suara, pikiran, tubuhnya penting untuk didengar dan dilindungi.

Apakah Pemimpin AI Lebih Baik dari Manusia


Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan || Adit MKM || @gagasmedia ||  Cetakan Pertama, 2024 || 260 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Pernah mikir gak, kok negara ini makin ganti presiden masalahnya gak makin berkurang tapi seperti nambah aja masalahnya, nambah aja bebannya ke rakyat, makin banyak aja pejabat yang menunjukan tidak kapabilitasnya dalam menjalankan negara ini. Lelah kan kita? Bahkan saya pernah di titik "Taik capek banget jadi WNI, kalo ada cara gue pindah warganegara gas lah."

Nah, novel Masa Depan yang Tidak Boleh Dibicarakan karya Adit MKM ini menawarkan cerita dengan premis yang menarik menurut saya. Bagaimana jika semua bencana, kerusakan alam, ketimpangan ekonomi, dan kesemrawutan di dunia ini karena negara masih dipimpin oleh manusia yang punya sisi manusiawi yang tamak, manipulatif, seringkali tidak menggunakan hati nurani saat mengambil keputusan, dan masih banyak hal gila yang pernah terpikirkan oleh manusia. Dan satu-satunya cara untuk memperbaiki kerusakan di sebuah negara atau tatanan sosial adalah dipimpin oleh komputer atau AI.

Agak absurd, tapi kalian harus membaca novel ini sendiri. Novel ini dibuka dengan gambaran sebuah wilayah utopia bernama Neopolis. Di Neopolis semua orang bekerja bukan lagi karena mengejar uang tapi hanya sekedar menjalankan peranan masing-masing. Kalau warganya lapar, mereka hanya tinggal minta dan makan. Semua kehidupan di Neopolis dikontrol, termasuk jumlah populasi. Mereka mengendalikan populasi di Neopolis dengan cara memandulkan warganya. Urologis menjadi sebuah profesi penting di Neopolis. Dan menariknya, Neopolis dipimpin oleh Sang Komputer, benar-benar komputer. Tapi, kehidupan di Neopolis berjalan dengan nyaman dan tenang tanpa gejolak berarti karena sebuah slogan yang selalu mereka dengungkan, Ketaatan Melahirkan Keberlanjutan.  

Di sisi lain, ada podcast yang diampu oleh dua orang Danu dan Geraldy yang berbicara melantur ke sana-sini tapi kemudian mereka membicarakan konsep negara ideal menurut mereka. Bagaimana sesungguhnya menurut mereka kekacauan di dunia ini adalah karena keserakahan manusia. Danu dan Geraldy juga membicarakan bagaimana mencari solusi atas kekacauan itu. Termasuk opsi membentuk negara yang dipimpin oleh AI, yang mereka pikir akan mengurangi kesalahan dan kelalaian yang kerap dilakukan manusia saat memperoleh jabatan. 

Menjadi menarik karena ide-ide yang ada dalam podcast tersebut kemudian terwujud bernama Neopolis. Apa kaitan antara podcast dan Neopolis kamu harus  baca novel ini sendiri. 


Jujur, novel ini menurut saya lebih dari sekedar novel fiksi fantasi. Covernya yang terkesan "cantik" dan "fantasi banget" itu seperti hanya kamuflase dari isinya yang dark, penuh ide-ide makar, dan konspirasi. Saya merasa, suara penulis muncul dalam percakapan di podcast itu. Konsep-konsep tentang tatanan negara ideal yang Danu dan Geraldy munculkan itu seperti perwakilan penulisnya, apakah Adit MKM memang berniat membentuk sebuah tatanan sosial dengan AI sebagai junjungannya? hahaha mari kita tanyakan ke penulisnya langsung. 

Yang saya suka dari novel ini, dunia utopia (atau kalau saya bilang distopia semu) yang diciptakan penulis itu seperti mudah saya bayangkan di kepala. Bagaimana Neopolis yang dikelilingi tembok tinggi, kehidupan orang-orangnya, letak rumah sakitnya, menara komputer di tengah-tengah, atau dunia lama di luar Neopolis itu bisa disajikan dengan detail dan mudah sekali tercerna oleh saya yang jujur saja jarang sekali membaca karya fantasi. Alur penceritaannya juga mengalir enak dibaca dan page turner banget. Perpindahan antara fragmen cerita Neopolis dan fragmen podcast juga saling mengisi dan terjalin. Idenya yang kuat juga bisa tersampaikan dengan baik ke pembaca. 

Saya hanya terganggu dengan satu hal dari novel ini, endingnya. Saya membayangkan pasukan revolusi bisa menumbangkan rezim sehingga cerita ini akan "happy ending". Tapi ending yang berbeda ditawarkan penulis pada akhir cerita membuat saya berpikir "apakah memang di dunia ini tidak mungkin tercipta kondisi yang ideal?". Jika kita ditawarkan hidup dalam kenyamanan dan kemakmuran semu maka kita harus siap menukarnya dengan kebebasan yang terenggut dengan absolut.

Baca saja lah sendiri novelnya, sangat mindblowing menurut keyakinan saya. Saya yakin saat kalian mulai membacanya, tidak akan bisa berhenti hingga lembar terakhir. Selamat Membaca



Sunday, February 8, 2026

Pesan Hangat dari Ibu Psikiater untuk Bekal Menyambut Usia 40 Tahun


Umur 40, Kok Gini Amat? || Han Sung Hee || @penerbitharu ||  Cetakan Pertama, 2025 || 357 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Nak, apa pun kata orang, jalanilah hidupmu dengan melakukan hal-hal yang benar-benar ingin kamu lakukan. Karena, yang harus bertanggung jawab atas hidupmu adalah dirimu sendiri.

Umur 40, Kok Gini Amat? - Han Sung Hee


Apa kamu saat ini berada di fase usia 30an awal atau menjelang 40 tahun? Tapi kamu masih mengalami kebimbangan dan makin ragu terhadap arah hidup. Sementara di sekelilingmu, mereka yang seusiamu punya pencapaian yang lebih darimu, paling tidak menurut kacamatamu.

Kalau jawabannya iya, saya pikir kamu bisa baca buku ini. Umur 40, Kok Gini Amat? tulisan Han Sung Hee, beliau adalah seorang ibu dan juga psikiater dan psikoanalis. Buku ini awalnya ditujukan untuk putrinya yang berisi 38 pelajaran hidup yang bisa dijadikan pegangan saat kita mengalami kebingungan dan kecemasan yang yang seringkali muncul di usia usia menjelang 40 tahun. Di masa-masa ini, fase di mana hidup terasa sangat berat dengan beban hidup, tuntutan, dan rumit.

38 pelajaran hidup dalam buku ini terbagi dalam lima chapter pembahasan. Salah satu pelajaran hidup yang tersemat dalam buku ini tentang bagaimana bertahan di masa-masa sulit. Ada 3 poin pesan, antara lain : 

- Fokuslah dengan apa yang ada di dalam meski makin banyak perubahan di luar. 

- Berpikir dan bertindak berdasarkan "impian".

- Merasa cukup.


Saat saya baca buku ini di halaman-halaman awal, rasanya seperti dipeluk dan dinasehati oleh ibu. Apa yang disampaikan tidak tajam menghakimi tapi memberikan petunjuk petunjuk berdasarkan pengalaman hidup dan kisah kisah pasiennya selama ia praktek. Jadi kalian tidak perlu takut akan dihakimi saat membaca buku ini.

Dari buku ini, saya belajar untuk percaya pada impian, berdamai dengan ekspektasi yang berlebihan, menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, dan merasa cukup. Penulis juga seperti menyampaikan, tidak apa-apa jika kamu, di usiamu sekarang, belum menyamai pencapaian orang lain. Karena setiap orang memiliki tantangan dalam hidupnya masing-masing. Kita hanya perlu percaya pada kemampuan diri dan mengizinkan diri melalui proses dalam jalur hidup kita.

Kalau kamu mau membaca buku yang membuatmu seakan dipeluk oleh ibu dan sambil diberikan pesan-pesan hangat, silakan baca buku ini.

Selamat Membaca


Apakah ini Novel Tutorial Membunuh Suami?

How to Kill Your Husband || Aghnia Sofyan || @penerbitpop ||  Cetakan Pertama, Mei 2025 || 262 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Aku ingin membunuh suamiku. Apakah kau juga begitu? Akui saja. Setidaknya pasti ada sedikit keinginan itu di hatimu. Kalau tidak, untuk apa kau membaca tulisan ini?

- How to Kill Your Husband, Persephone - 

Jujuuurr... Pertama kali membaca judul novel ini sangat intimidatif rasanya. Katakanlah memang kita belum menikah ataupun berpikir membunuh seseorang, namun orang lain pasti memandang curiga jika kita terlihat membaca buku ini. Atau itu hanya pikiran liar saya saja ya?

Tapi percayalah, saat membaca lembar demi lembar di awal, kalian yang suka baca cerita detektif atau misteri pembunuhan akan suka sekali dengan novel ini.


Dibuka dengan unggahan blog yang berjudul How To Kill Your Husband yang ditulis Persephone. Blog ini berisi tentang rencana si penulis blog untuk membunuh suaminya. Persephone menarik audiencenya dengan petunjuk bagaimana ia merencanakan pembunuhan itu dan persiapannya. 

Di sisi lain, inspektur polisi Bonita Gamal yang harus meninggalkan acara keluarganya untuk menangani sebuah kasus. Sesosok tubuh ditemukan tak bernyawa di gedung setengah jadi. Konon ia loncat dari atap gedung. Tapi Inspektur Boni mencium aroma berbeda selain bunuh diri. 

Kecurigaan Boni jika kematian Gagan, pria yang ditemukan meninggal dunia, bukan karena bunuh diri melainkan dibunuh semakin kuat. Namun, ia masih berusaha menggali fakta, termasuk mengamati Serena, istri Gagan. Di sisi lain, suaminya Krisna semakin menanyakan jarak yang makin terasa pada  rumah tangga mereka. Boni sengaja menghindari suaminya dan tenggelam dalam penyelidikan kasus ini. 


Saya menikmati proses investigasi yang dilakukan Boni. Caranya menginterogasi dan mengarahkan lawan bicaranya untuk memberikan jawaban yang ia perlukan. Menariknya, selain proses cerita proses investigasi penulis juga menyelipkan unggahan blog yang seperti mengarahkan pembaca dalam menerka siapa pembunuhnya. Seru untuk dibaca terus karena penulis mengolah dan menyajikan emosi para tokohnya seperti pas banget dan memancing pembaca untuk penasaran di setiap halaman. Bahkan, disajikan info detail tentang golf untuk memudahkan pembaca memahami salah satu tokoh, Serena

Plot twistnya gila banget novel ini. Pelaku pembunuhannya benar-benar gak ketebak. Semua prediksi salah, bahkan motif pembunuhannya juga sederhana. Memang pembunuhnya aja yang sakit mental. Kereeen pol

Sekali lagi, jika kamu suka cerita-cerita detektif atau misteri pembunuhan, novel ini wajib dimasukkan list TBR.





Saturday, January 31, 2026

Ekspedisi yang Menampar Negara dengan Fakta yang Selama Ini Dikaburkan


#Reset Indonesia  || Penulis : Farid Gaban & Dandhy Laksono || Koperasi Indonesia Baru & Indonesia Tera / Patjar Merah || 448 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Buku #Reset Indonesia karya Farid Gaban dan Dandhy Laksono adalah tuduhan terbuka terhadap cara negara ini dijalankan. Ini bukan buku refleksi lembut, bukan pula bacaan optimistis ala pidato kenegaraan. Ini adalah berkas dakwaan atas proyek bernama “pembangunan nasional” yang selama puluhan tahun dijual sebagai kemajuan, padahal praktiknya adalah perampasan yang dilegalkan.

“Reset” dalam buku ini bukan ajakan kosmetik. Ia adalah tuntutan politis berupa, hentikan sistem, bongkar fondasinya, dan susun ulang dari nol.

Pembangunan, Nama Halus untuk Penjarahan Terstruktur

Buku ini dengan brutal membuka fakta yang sering disamarkan, pembangunan di Indonesia bukan gagal, ia justru berhasil, tapi hanya untuk oligarki. Tambang, perkebunan raksasa, reklamasi, IKN, infrastruktur, semuanya dipresentasikan sebagai kepentingan nasional, padahal tanah dirampas atas nama izin, hutan dihancurkan atas nama investasi, dan warga digusur atas nama pertumbuhan.

Negara tidak netral. Negara berpihak secara aktif pada pemodal. Hukum dipakai sebagai alat legalisasi perampasan, bukan pelindung warga. Dalam kerangka ini, konflik agraria bukan kecelakaan kebijakan, tapi konsekuensi logis dari desain kekuasaan.

Demokrasi yang Disunat, Kritik yang Dikriminalisasi

Farid dan Dandhy dengan terang-terangan menyebut demokrasi Indonesia sebagai demokrasi prosedural tanpa keberanian. Pemilu jalan, baliho ramai, survei bertebarantap, namun keputusan penting justru diambil di ruang tertutup, jauh dari rakyat. Siapa yang berani menolak proyek strategis nasional? Aktivis akan dicap penghambat, akademisi dikerdilkan, dan jurnalis dikriminalisasi

Demokrasi direduksi menjadi ritual lima tahunan, sementara hak rakyat untuk menentukan masa depan wilayah hidupnya dipreteli. Stabilitas dijadikan mantra untuk membungkam perlawanan.

Ekologi Dikorbankan, Krisis Dipungut Keuntungannya

Dalam buku ini, kehancuran lingkungan tidak diperlakukan sebagai “dampak samping”. Ia adalah inti masalah. Model ekonomi ekstraktif yang dipertahankan negara memastikan satu hal, alam akan selalu kalah. Ironisnya, ketika krisis iklim datang, Negara bicara transisi energi dan rakyat menanggung banjir, longsor, serta kekeringan. Krisis dipakai sebagai peluang bisnis baru, bukan momentum koreksi. Buku ini menyebutnya dengan tepat: kapitalisme bencana.

Nasionalisme Palsu dan Retorika Kepentingan Bangsa

Salah satu kritik paling tajam dalam #Reset Indonesia adalah penggunaan nasionalisme sebagai tameng politik. Atas nama “kepentingan bangsa”, proyek destruktif dilegalkan, penolakan warga dianggap tidak nasionalis, kritik disamakan dengan ancaman.

Padahal yang dilindungi bukan bangsa, melainkan kepentingan ekonomi segelintir elite yang bersembunyi di balik simbol negara.

#Reset Indonesia tidak berpura-pura objektif. Ia berpihak. Dan di tengah negara yang makin alergi pada kritik, keberpihakan itu adalah sikap politis yang penting. Buku ini tidak meminta izin pada kekuasaan. Ia mengganggu, menyentil, dan memprovokasi pembacanya untuk berhenti percaya pada narasi resmi. Ini bukan buku untuk mereka yang ingin merasa aman. Ini buku untuk mereka yang siap marah, gelisah, dan bertanya ulang: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari Indonesia hari ini?

Farid Gaban dan Dandhy Laksono tidak menjanjikan masa depan cerah. Yang mereka tawarkan adalah pilihan jujur, Reset sistem yang menindas atau bertahan dalam normal lama yang merusak. #Reset Indonesia bukan lagi sekadar buku. Ia adalah ajakan politik—untuk menolak patuh, menolak diam, dan menolak percaya bahwa kehancuran ini adalah takdir.