Sunday, February 8, 2026

Pesan Hangat dari Ibu Psikiater untuk Bekal Menyambut Usia 40 Tahun


Umur 40, Kok Gini Amat? || Han Sung Hee || @penerbitharu ||  Cetakan Pertama, 2025 || 357 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Nak, apa pun kata orang, jalanilah hidupmu dengan melakukan hal-hal yang benar-benar ingin kamu lakukan. Karena, yang harus bertanggung jawab atas hidupmu adalah dirimu sendiri.

Umur 40, Kok Gini Amat? - Han Sung Hee


Apa kamu saat ini berada di fase usia 30an awal atau menjelang 40 tahun? Tapi kamu masih mengalami kebimbangan dan makin ragu terhadap arah hidup. Sementara di sekelilingmu, mereka yang seusiamu punya pencapaian yang lebih darimu, paling tidak menurut kacamatamu.

Kalau jawabannya iya, saya pikir kamu bisa baca buku ini. Umur 40, Kok Gini Amat? tulisan Han Sung Hee, beliau adalah seorang ibu dan juga psikiater dan psikoanalis. Buku ini awalnya ditujukan untuk putrinya yang berisi 38 pelajaran hidup yang bisa dijadikan pegangan saat kita mengalami kebingungan dan kecemasan yang yang seringkali muncul di usia usia menjelang 40 tahun. Di masa-masa ini, fase di mana hidup terasa sangat berat dengan beban hidup, tuntutan, dan rumit.

38 pelajaran hidup dalam buku ini terbagi dalam lima chapter pembahasan. Salah satu pelajaran hidup yang tersemat dalam buku ini tentang bagaimana bertahan di masa-masa sulit. Ada 3 poin pesan, antara lain : 

- Fokuslah dengan apa yang ada di dalam meski makin banyak perubahan di luar. 

- Berpikir dan bertindak berdasarkan "impian".

- Merasa cukup.


Saat saya baca buku ini di halaman-halaman awal, rasanya seperti dipeluk dan dinasehati oleh ibu. Apa yang disampaikan tidak tajam menghakimi tapi memberikan petunjuk petunjuk berdasarkan pengalaman hidup dan kisah kisah pasiennya selama ia praktek. Jadi kalian tidak perlu takut akan dihakimi saat membaca buku ini.

Dari buku ini, saya belajar untuk percaya pada impian, berdamai dengan ekspektasi yang berlebihan, menjalani hidup dengan penuh rasa syukur, dan merasa cukup. Penulis juga seperti menyampaikan, tidak apa-apa jika kamu, di usiamu sekarang, belum menyamai pencapaian orang lain. Karena setiap orang memiliki tantangan dalam hidupnya masing-masing. Kita hanya perlu percaya pada kemampuan diri dan mengizinkan diri melalui proses dalam jalur hidup kita.

Kalau kamu mau membaca buku yang membuatmu seakan dipeluk oleh ibu dan sambil diberikan pesan-pesan hangat, silakan baca buku ini.

Selamat Membaca


Apakah ini Novel Tutorial Membunuh Suami?

How to Kill Your Husband || Aghnia Sofyan || @penerbitpop ||  Cetakan Pertama, Mei 2025 || 262 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Aku ingin membunuh suamiku. Apakah kau juga begitu? Akui saja. Setidaknya pasti ada sedikit keinginan itu di hatimu. Kalau tidak, untuk apa kau membaca tulisan ini?

- How to Kill Your Husband, Persephone - 

Jujuuurr... Pertama kali membaca judul novel ini sangat intimidatif rasanya. Katakanlah memang kita belum menikah ataupun berpikir membunuh seseorang, namun orang lain pasti memandang curiga jika kita terlihat membaca buku ini. Atau itu hanya pikiran liar saya saja ya?

Tapi percayalah, saat membaca lembar demi lembar di awal, kalian yang suka baca cerita detektif atau misteri pembunuhan akan suka sekali dengan novel ini.


Dibuka dengan unggahan blog yang berjudul How To Kill Your Husband yang ditulis Persephone. Blog ini berisi tentang rencana si penulis blog untuk membunuh suaminya. Persephone menarik audiencenya dengan petunjuk bagaimana ia merencanakan pembunuhan itu dan persiapannya. 

Di sisi lain, inspektur polisi Bonita Gamal yang harus meninggalkan acara keluarganya untuk menangani sebuah kasus. Sesosok tubuh ditemukan tak bernyawa di gedung setengah jadi. Konon ia loncat dari atap gedung. Tapi Inspektur Boni mencium aroma berbeda selain bunuh diri. 

Kecurigaan Boni jika kematian Gagan, pria yang ditemukan meninggal dunia, bukan karena bunuh diri melainkan dibunuh semakin kuat. Namun, ia masih berusaha menggali fakta, termasuk mengamati Serena, istri Gagan. Di sisi lain, suaminya Krisna semakin menanyakan jarak yang makin terasa pada  rumah tangga mereka. Boni sengaja menghindari suaminya dan tenggelam dalam penyelidikan kasus ini. 


Saya menikmati proses investigasi yang dilakukan Boni. Caranya menginterogasi dan mengarahkan lawan bicaranya untuk memberikan jawaban yang ia perlukan. Menariknya, selain proses cerita proses investigasi penulis juga menyelipkan unggahan blog yang seperti mengarahkan pembaca dalam menerka siapa pembunuhnya. Seru untuk dibaca terus karena penulis mengolah dan menyajikan emosi para tokohnya seperti pas banget dan memancing pembaca untuk penasaran di setiap halaman. Bahkan, disajikan info detail tentang golf untuk memudahkan pembaca memahami salah satu tokoh, Serena

Plot twistnya gila banget novel ini. Pelaku pembunuhannya benar-benar gak ketebak. Semua prediksi salah, bahkan motif pembunuhannya juga sederhana. Memang pembunuhnya aja yang sakit mental. Kereeen pol

Sekali lagi, jika kamu suka cerita-cerita detektif atau misteri pembunuhan, novel ini wajib dimasukkan list TBR.





Saturday, January 31, 2026

Ekspedisi yang Menampar Negara dengan Fakta yang Selama Ini Dikaburkan


#Reset Indonesia  || Penulis : Farid Gaban & Dandhy Laksono || Koperasi Indonesia Baru & Indonesia Tera / Patjar Merah || 448 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Buku #Reset Indonesia karya Farid Gaban dan Dandhy Laksono adalah tuduhan terbuka terhadap cara negara ini dijalankan. Ini bukan buku refleksi lembut, bukan pula bacaan optimistis ala pidato kenegaraan. Ini adalah berkas dakwaan atas proyek bernama “pembangunan nasional” yang selama puluhan tahun dijual sebagai kemajuan, padahal praktiknya adalah perampasan yang dilegalkan.

“Reset” dalam buku ini bukan ajakan kosmetik. Ia adalah tuntutan politis berupa, hentikan sistem, bongkar fondasinya, dan susun ulang dari nol.

Pembangunan, Nama Halus untuk Penjarahan Terstruktur

Buku ini dengan brutal membuka fakta yang sering disamarkan, pembangunan di Indonesia bukan gagal, ia justru berhasil, tapi hanya untuk oligarki. Tambang, perkebunan raksasa, reklamasi, IKN, infrastruktur, semuanya dipresentasikan sebagai kepentingan nasional, padahal tanah dirampas atas nama izin, hutan dihancurkan atas nama investasi, dan warga digusur atas nama pertumbuhan.

Negara tidak netral. Negara berpihak secara aktif pada pemodal. Hukum dipakai sebagai alat legalisasi perampasan, bukan pelindung warga. Dalam kerangka ini, konflik agraria bukan kecelakaan kebijakan, tapi konsekuensi logis dari desain kekuasaan.

Demokrasi yang Disunat, Kritik yang Dikriminalisasi

Farid dan Dandhy dengan terang-terangan menyebut demokrasi Indonesia sebagai demokrasi prosedural tanpa keberanian. Pemilu jalan, baliho ramai, survei bertebarantap, namun keputusan penting justru diambil di ruang tertutup, jauh dari rakyat. Siapa yang berani menolak proyek strategis nasional? Aktivis akan dicap penghambat, akademisi dikerdilkan, dan jurnalis dikriminalisasi

Demokrasi direduksi menjadi ritual lima tahunan, sementara hak rakyat untuk menentukan masa depan wilayah hidupnya dipreteli. Stabilitas dijadikan mantra untuk membungkam perlawanan.

Ekologi Dikorbankan, Krisis Dipungut Keuntungannya

Dalam buku ini, kehancuran lingkungan tidak diperlakukan sebagai “dampak samping”. Ia adalah inti masalah. Model ekonomi ekstraktif yang dipertahankan negara memastikan satu hal, alam akan selalu kalah. Ironisnya, ketika krisis iklim datang, Negara bicara transisi energi dan rakyat menanggung banjir, longsor, serta kekeringan. Krisis dipakai sebagai peluang bisnis baru, bukan momentum koreksi. Buku ini menyebutnya dengan tepat: kapitalisme bencana.

Nasionalisme Palsu dan Retorika Kepentingan Bangsa

Salah satu kritik paling tajam dalam #Reset Indonesia adalah penggunaan nasionalisme sebagai tameng politik. Atas nama “kepentingan bangsa”, proyek destruktif dilegalkan, penolakan warga dianggap tidak nasionalis, kritik disamakan dengan ancaman.

Padahal yang dilindungi bukan bangsa, melainkan kepentingan ekonomi segelintir elite yang bersembunyi di balik simbol negara.

#Reset Indonesia tidak berpura-pura objektif. Ia berpihak. Dan di tengah negara yang makin alergi pada kritik, keberpihakan itu adalah sikap politis yang penting. Buku ini tidak meminta izin pada kekuasaan. Ia mengganggu, menyentil, dan memprovokasi pembacanya untuk berhenti percaya pada narasi resmi. Ini bukan buku untuk mereka yang ingin merasa aman. Ini buku untuk mereka yang siap marah, gelisah, dan bertanya ulang: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari Indonesia hari ini?

Farid Gaban dan Dandhy Laksono tidak menjanjikan masa depan cerah. Yang mereka tawarkan adalah pilihan jujur, Reset sistem yang menindas atau bertahan dalam normal lama yang merusak. #Reset Indonesia bukan lagi sekadar buku. Ia adalah ajakan politik—untuk menolak patuh, menolak diam, dan menolak percaya bahwa kehancuran ini adalah takdir.


Jadi Baiknya Suara Dibungkam atau Tidak?


Bungkam Suara || Penulis : JS Khairen || @grasindo || Cetakan Kedelapan Oktober 2025 || 366 halaman 

Rate : 5/5 ⭐

Apa jadinya jika kita, sebagai warga negara, hanya memiliki satu hari untuk bebas berbicara? Di Hari Bebas Bicara itu semua rakyat bebas berbicara secara terang-terangan, tanpa harus khawatir ditangkap. 

Kalau itu terjadi di negeri ini pasti satu hari itu akan chaos, sama yang terjadi di cerita novel Bungkam Suara karya JS Khairen ini. JS Khairen mengajak pembaca masuk ke sebuah dunia distopia, Negara Kesatuan Adat Lawaknesia atau disebut juga NAKAL, di sini berbicara, berteriak, bahkan sekadar bersuara bisa berujung hukuman. Dalam dunia ini, diam bukan lagi pilihan, tapi kewajiban. Suara dianggap berbahaya, karena suara berarti ekspresi, protes, dan kemungkinan perlawanan. Hanya ada satu hari mereka bisa bebas bicara.

Cerita yang Sederhana, Tapi Mengganggu

Plot Bungkam Suara sebenarnya tidak rumit. Namun justru di situlah kekuatannya. JS Khairen tidak sibuk membangun dunia dengan istilah teknis berlebihan, melainkan fokus pada ketakutan sehari-hari, rasa cemas saat ingin bicara, dilema antara diam demi selamat atau bersuara demi kebenaran.

Tokoh-tokohnya terasa manusiawi, tak sepenuhnya heroik, sering ragu, dan penuh konflik batin. Pembaca diajak bertanya:

Kalau aku hidup di dunia ini, aku akan berani bersuara… atau memilih aman?

Alegori Kekuasaan dan Pembungkaman

Sulit membaca buku ini tanpa merasa “tersindir”. Bungkam Suara jelas bukan sekadar fiksi. Ia bekerja sebagai alegori tentang kekuasaan yang takut pada kritik. Di sini, pembungkaman tidak selalu lewat senjata, tapi lewat aturan, normalisasi ketakutan, dan pembiasaan diam.

JS Khairen seakan ingin bilang:

pembungkaman paling efektif bukan ketika suara dilarang, tapi ketika orang-orang takut menggunakan suaranya sendiri.

Ini terasa relevan dengan konteks sosial mana pun, termasuk Indonesia, di mana kritik sering dianggap gangguan, bukan bagian dari demokrasi.

Gaya Bahasa: Ringan, Cepat, dan Mengalir

Salah satu ciri khas JS Khairen tetap terasa: bahasa yang lugas, dialog yang hidup, dan ritme cerita yang cepat. Buku ini tidak terasa “berat”, meskipun temanya serius. Justru itu yang bikin efeknya nendang—pesan politik dan sosial diselipkan tanpa menggurui.

Namun, bagi pembaca yang mengharapkan eksplorasi dunia distopia yang sangat detail, buku ini mungkin terasa agak singkat dan padat. Ia lebih seperti tamparan cepat daripada kuliah panjang.

Bungkam Suara adalah novel yang relevan, resah, dan provokatif. Ia mengajak pembaca merenungkan makna kebebasan berekspresi, keberanian bersuara, dan harga yang harus dibayar ketika kebenaran dianggap ancaman.

Ini bukan buku yang memberi jawaban pasti.

Tapi ia menanam satu pertanyaan yang terus menggema setelah halaman terakhir ditutup:

Kalau suatu hari suara kita dibungkam, apakah kita masih ingat cara bersuara?



Mari Masuk ke Dubia Na Willa


Na Willa || Reda Gaudiamo || @postpress || Cetakan Kesebelas Agustus 2025 || 115 halaman 

Rate : 5/5 ⭐


Pernah tidak kita yang usianya sudah menginjak leher orang ini rindu dengan kehidupan saat masa kecil? Masa-masa di mana yang kita tahu hanya bermain dan bersenang-senang. Masa-masa di mana masalah terberat kita hanya uang jajan yang dipotong orang tua karena kebanyakan main. 

Nah, kalo kamu sama rindunya masa-masa itu sama seperti saya, sepertinya buku ini cocok kita baca. Na Willa karya ibu Reda Gaudiamo. Tau kan, Ibu Reda yang tutur katanya lembut, yang setiap beliau bicara seperti kita dipeluk dalam kehangatan. Nah Na Willa ini juga menurut saya menawarkan pengalaman yang sama. 

Membaca Na Willa seperti kita diajak untuk menyelami dunia Willa, bocah kecil yang 4-5 tahun atau berusia TK, yang tinggal di sebuah kawasan di Surabaya. Kita diajak berkenalan dengan Mak dan Pak, orang tua Willa, berkenalan dengan sahabat-sahabat Willa, Ida, Dul, Bud, Warno, Gus Salim, dan lain-lain. Mengikuti kisah orang-orang di sekitar Willa yang dilihat dari POV Willa. Mengikuti kisah Willa yang sudah ingin sekali sekolah dan pada akhirnya menemukan TK yang ia sukai.  

Sungguh menyenangkan. Membaca Na Willa, ingatan kita menjadi segar sekali dengan kisah-kisah bocah kecil itu, bersamaan juga kita merasakan kehangatan dari interaksi Willa dengan orang-orang di sekitarnya. Bagaimana kedekatan Willa dengan Mak dan Pak, kebiasaannya dibacakan buku atau didongengin Mak sebelum tidur, atau juga kerinduannya pada sosok Pak yang hanya bisa ia temui sesekali karena bekerja di luar kota. 

Bu Reda menuliskan Na Willa dengan bahasa yang menurut saya "sangat anak-anak" atau paling tidak bisa dibaca dan dipahami oleh anak-anak. Setiap kisahnya sarat dengan pesan yang disampaikan dengan ringan. 

Kalian harus baca buku Na Willa ini sebelum nanti filmnya akan tayang di libur Lebaran. Rasakan kehangatan dunia Willa bahkan dari membaca kisahnya di buku ini.