Perempuan di Titik Nol || Nawal el-Saadawi || Penerbit Obor || Cetakan ke-21, Juni 2025 || 210 halaman
Rate : 5/5 ⭐
Apa jadinya saat kita membaca novel yang ditulis tahun 70an namun kisahnya seakan masih bisa kita lihat di sekeliling kita di masa kekinian. Inilah yang saya rasakan saat membaca Perempuan di Titik Nol karya Nawal el-Saadawi.
Saya tidak menemukan rasa nyaman saat membaca Buku Perempuan di Titik Nol, tapi justru itu kekuatannya. Lewat tokoh Firdaus, Nawal El Saadawi membongkar wajah patriarki dengan jujur, pahit, dan tanpa basa-basi. Ini bukan kisah perempuan lemah yang menunggu diselamatkan namun kisah perempuan yang sadar bahwa sistemlah yang rusak.
Firdaus tidak lahir sebagai “perempuan rusak”. Ia diproduksi oleh sistem. Sejak kecil, negara absen melindunginya, tapi sangat hadir untuk mengontrolnya. Pendidikan, keluarga, pernikahan, dunia kerja. Semuanya berjalan dalam satu logika yang sama, perempuan harus patuh, melayani, dan diam. Di titik inilah feminisme dalam buku ini terasa sangat kuat. Penindasan terhadap perempuan bukan soal individu jahat, tapi soal struktur sosial yang timpang.
Buku ini penting karena menunjukkan bahwa musuh perempuan bukan hanya individu laki-laki, melainkan struktur patriarki yang dilembagakan. Ayah, paman, suami, mucikari, atasan kantor, polisi, hakim yang semuanya adalah perpanjangan tangan sistem yang sama. Mereka berbeda peran, tapi satu tujuan yaitu menguasai tubuh dan hidup perempuan.
Ketika Firdaus diperkosa, negara diam. Ketika ia dipukul suami, negara menyebutnya urusan rumah tangga. Tapi ketika ia membunuh laki-laki yang mengeksploitasinya, negara tiba-tiba sangat “bermoral” dan hadir penuh wibawa lewat hukum dan tiang gantungan.
Buku ini seharusnya dibaca bukan sebagai novel, tapi sebagai dokumen perlawanan. Firdaus memang berada di titik nol, tapi justru dari titik itulah kebohongan patriarki terlihat paling telanjang.
Dan pesan paling kejam dari El Saadawi jelas, selama negara, hukum, dan moral dibangun di atas ketundukan perempuan, maka kematian seperti Firdaus bukan tragedi melainkan kebijakan.
Lantas bagaimana di negara ini?
Di Indonesia, negara sangat aktif mengatur tubuh dan moral perempuan, tapi sering absen ketika perempuan mengalami kekerasan. Kita masih melihat korban kekerasan seksual disalahkan karena pakaian atau jam pulang, perempuan korban KDRT diminta “sabar demi anak”, pekerja perempuan dieksploitasi tapi disuruh bersyukur karena “masih punya kerja”.
Seperti Firdaus, perempuan Indonesia sering dianggap bermasalah ketika melawan, bukan ketika disakiti. Negara lebih cepat menghakimi perilaku perempuan daripada melindungi keselamatannya. Perempuan miskin, seperti Firdaus, selalu jadi target termudah. Mudah diatur, mudah disalahkan, dan mudah dikorbankan.
Novel Perempuan di Titik Nol ini masih sangat relate dibaca meskipun ditulis puluhan tahun lalu. Itu artinya apa? Di setiap masa dan zaman, perempuan akan selalu menjadi objek bukan dipandang sebagai subjek yang suara, pikiran, tubuhnya penting untuk didengar dan dilindungi.








